Kamis, 30 November 2017

IBRAHIM ELFIKY: Rutinitas Yang Negatif

Ibrahim Elfiky. Doc, TK Uncen


Oleh: Faishal Panggi

Tabloid Kasuari, Artikel--- Anda mendengar seseorang yang mengeluhkan rutinitas hidupnya? Pernahkah Anda sendiri merasa rutinitas anda menyenangkan?
mencari posisi aman agar tetap bertahan hidup adalah tabiat manusia. Karena itu ia memetakan wilayah yang oleh psikolog terkemuka, Dr Carl Jung, disebut “zona aman dan tenang”. Di wilayah inilah seseorang merasa aman. Wilayah ini terdiri dari tiga unsur utama: tempat tinggal, pekerjaan, dan orang yang hidup bersamanya.

Dalam hal ini albert Einstein pernah berkata, “seseorang merasa aman ketika mendapatkan tempat tingga, pekerjaan, dan orang-orang yang ia cintai hidup bersamanya.” Ungkapkan bijak dari filsafat India Kuno mengatakan, “jika anda mendaptakan rumah sebagai tempat tinggal, Anda beruntung. Jika Anda cerdik. Jika anda mendapatkan orang-orang yang bisa hidup bersama dengan saling berbagai cinta, Anda bahagia. Jika Anda memiliki semua itu, berarti Anda orang yang paling kaya.”

Semua orang hidup dalam rutinitas tertentu dan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan pekerjaan tertentu. Ketika terjadi perubahan hidup, kita merasa kehilangan rasa aman dan tidak tenang. Karena itu, setiap orang berusaha keras untuk memiliki “zona aman” yang menjamin kelangsungan hidupnya. Namun, zona aman tersebut bisa berubah menjadi rutinitas negatif yang bisa-bisa mengganngu stabilitas kejiwaan. Rutinitas negatif yang di maksud adalah melakukan hal yang sama dengan cara yang sama sepanjang waktu tanpa perubahan. Contoh : bangun tidur, minum kopi, sarapan, lalu berangkat kerja. Aktifitas ini selalu di lakukan setiap hari. Begitu pula setelah pulang dari kerja ia melakukan hal yang sama. Begitulah ia berkutat dengan rutinitas tersebut sehingga hidupnya tak terasa bermakna.

Sesuatu yang paling membahagiakan adalah jika seorang merasa berhasil, berkembang, dan lebih maju. Sekitar lima puluh hotel bintang lima yang berdiri megah di Montreal, Kanada, melakukan penelitian tentang kebutuhan manusia.. hal itu di lakukan untuk mendongkrak animo masyarakat agar berkanan singgah di hotel itu. Penelitian tersebut menghasilkan urutan kebutuhan manusia sebagai berikut : kelangsungan hidup,, zaminan material, afiliasi, kebebasan, cinta, penghargaan, pencapian, perubahan, dan bermakna. “ternyata, pencapaian berada pada urutan ke enam dari yang di butuhkan manusia. Pernyataan yang di lontarkan para ahli tentang penelitian ini : tanpa pencapaian, seseorang tidak akan pernah merasa hidupnya bermakna. Hal itulah yang menyebabkkan karyawan berhenti sehingga menimbulkan kerugian di pihak pengelola hotel.

Secara psikologis, tidak adanya prestasi menyebabkan maraknya kasus bunuh diri, terutama di kalangan anak muda yang rasa prustasi dan kesepian. Karena tidak mendapatkan jalan keluar dari persoalan yang di hadapi, akhirnya mereka bunuh diri. Orang yang hidup dalam rutinitas negatif akan kehilangan perhatian terhadap pekerjaanya dan segala sesuatu di sekitarnya. Selain itu, apapun perbuatan yang terjadi, baginya terasa hambar. Tak pelak, ia menangung kesedihan.

Dalam suatu kesempatan, seorang karyawan menemui saya . ia berkata, “Dr. Ibrahim, berkat karunia Allah aku ini sukses, baik secara finansial, pekerjaan, maupun keluarga. Tetapi aku tidak merasa bahagia. Aku ingin anda membantuku. “ untuk itu, saya menanyakan pola hidupnya. Ia bilang : rutinitas yang menjemukan. Sejak sepuluh tahun yang lalu, yang aku kerjakan selalu sama. “saya tanya, “mengapa anda tidak membuat perubahan positif yang membuat bahagia ? ” ia menjawab, “sudah kucoba, tapi aku takut gagal”.

Inilah contoh sederhana dari rutinitas negatif yang tumbuh dari pikiran negatif. (Baca : Dr. Ibrahim Elfiki, Terapi berfikir postif : hal 160-162). Bagi saya, sepotong isi cerita di atas yang di kutip dalam buku “ Terapi Berfikir Positif” karya Dr. Ibrahim Elfiky ini perlu saya bagikan ke para pembaca yang belum memiliki buku ini, agar kita semua sadar bahwa  rutinitas yang kita anggap biasa-biasa saja dan sering kita ulangi dengan cara yang sama tanpa ada perubahan bisa saja menjadi awal dari ketidak suksesan seseorang. Hal ini pun sejalan dengan pendapat yang di katakan Michael john bobak, ia mengatakan “Semua Kemajuan terjadi di luar Zona nyaman”. (Marchelino kudiai/TK Uncen) 


Penulis Ialah Mahasiswa Alumni Kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Selagi Kuliah,  ia pun banyak menulis.
Faishal panggi
Share:
Lokasi: Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Indonesia

Popular Posts

Mengenai Saya

Popular Posts