Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2018

Salam Diujung Senja

Foto Ist.

Oleh : Dewi

Pada ruas-ruas nirwana
Ku lukiskan aksara penghubung rasa
Walau raga entah di mana
D malam satu rasalah kita bersua

Seperti kepak merpati
Tak lelah ayunkan sayap kan kaki
Walau raga di terpa hujan membasahi
Pasti lah kan kering tersudahi

Lihatlah bunga indahmu sahaja
Mekarmu menggemparkan rasa
Syahdumu menyusup indah di jiwa
Membangkitkan jiwa yang redup tanpa cahaya

Salam di ujung senja wahai cinta
Anugrah dan hadirmu sungguhlah nyata
Walau beribu tahun kau tak menjelma
Ceritamu akan hidup dari masa ke masa.


Share:

Senin, 20 November 2017

OTSUS: Aku Pemungut Cukai Dari Barat Negeri

Sistem otomi khusus di papua. Ist, Geogle

Oleh Rendra Mae

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik.
dan tidak diajar dasar ilmu hukum

kita melihat kabur pribadi orang
karwena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
Untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
Untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
Pemuda kritingan
Pemuda menjelang dewasa

Dasar pendidikan kita adalah kepatuahan
Bukan pertukaran pikiran.


Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
Dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Kami minta buanglah ke negeri maju
Agar kami tekuni benar ilmu diatas semua ilmu

Dasar keadilan di dalam pergaulan,
Serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
Sebagai kelompok atau sebagai pribadi
Tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang
Gejala-gejala yang muncul jadi lalu lalang
Tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
Menikmati masa bodoh dan santai

Di dalam kegagapan
Kita hanya bisa membeli dan memakai,
Tanpa bisa mencipta
Kita tak bisa memimpin,
Tetapi hanya bisa berkuasa
Persis seperti bapa-bapa kita

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan untuk menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan
Tanpa kegunaan
Menjadi benalu di dahan

Gelap pandanganku gelap
Pendidikan tidak memberikan pencerahan
Latihan-latihan tidak memberikan pekerjaan
Gelap, keluh kesahku gelap
Orang yang hidup di dalam pengangguran

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tak bisa kita tafsirkan,
Lebih enak kita lari dalam puisi ganja.

Apa artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan
Wajah berdarah
Aku terlihat sebagai bulan.

Mengapa kita harus terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
Dianggap sebagai orang terpelajar,
Tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan,
Dan bila ada tirani yang merajalela
ia diam tidak bicara
kerjanya hanya menyuntik saja

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
Dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
Sementara hukum dikhianati berulang kali
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
Dianggap bunga plastik,
Sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di pusaran tatawarna
Yang ajaib dan tidak terbaca
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan,
Dan bila luput
Kita memukul dan mencakar
Ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar
Daya hidup telah diganti oleh nafsu
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
kita adalah angkatan yang berbahaya. (Marchelino kudiai)


Selamat hari Hut Otonomi Khusus di Papua, Semoga disisa Waktu ini semakin lebih baik. Asl.m
Share:

Senin, 17 Juli 2017

Ukm Pers| Kawan, Kita Jalan Nontong Harga

Photo ist/ doc Ukm Pers Uncen

Penulis: Getraldus Rababa

ayo
keluar kita keliling kota
tak perlu ongkos tak perlu biaya
masuk toko perbelanjaan tingkat lima
tak beli tak apa
lihat-lihat saja

kalau ingin durian
apel pisang rambutan atau anggur
ayo
kita bisa mencium baunya
mengumbar hidung cuma-cuma
tak perlu ongkos tak perlu biaya
di kota kita
buah macam apa
asal mana saja
ada

kalau ingin lihat orang cantik
di kota kita banyak gedung bioskop
kita bisa nonton posternya
atau ke diskotik
di depan pintu
kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma
mendengarkan detak musik
denting botol
lengking dan tawa
bisa juga kaunikmati
aroma minyak wangi luar negeri
cuma-cuma
aromanya saja

ayo
kita keliling kota
hari ini ada peresmian hotel baru
berbintang lima
dibuka pejabat tinggi
dihadiri artis-artis ternama dari ibukota
lihat
mobil para tamu berderet-deret
satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam
ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
sebelum kehabisan kendaraan
ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
tidur berderet-deret
seperti ikan tangkapan
siap dijual di pelelangan

besok pagi
kita ke pabrik kebun kita
kembali kerja
sarapan nasi bungkus
seperti biasanya. (Marchelino Kudiai)

Penulis syair, Mahasiswa Asal Kalimantan yang kuliah di Fakultas Ilmu Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih.
Share:

Popular Posts

Mengenai Saya

Popular Posts