Jumat, 20 Oktober 2017

Evolusi Warung Kopi Menambah Jumlah Generasi Merunduk

Oleh Faishal Panggi

Secangkir kopi, (Ilustrasi) 

Tabloid Kasuari, Opini--- Teman-teman apa yang terlintas dalam benak anda jika seseorang mengajak anda pergi ke warung kopi ? mungkin saja akan terfikirkan oleh anda bahwa warung kopi sekedar tempat nongkrong yang menyuguhkan menu minuman kopi dengan berbagai variasi dan berbagai rasa. Namun, Saat ini warung kopi bukan lagi sekedar tempat nongkrong oleh para pecinta kopi. Warung kopi dewasa ini seakan-akan menjadi tempat yang wajib di kunjungi oleh teman, sahabat, keluarga,pacar, dan semua kalangan untuk sekedar relaksasi dengan meminum bercangkir kopi sambil ngobrol santai, ada yang bercerita tentang masalah organisasi, ada juga yang bercerita tentang romantisme, tidak jarang kita menemukan orang-orang yang bercerita tentang masalah bisnis, politik,ekonomi,sosial, hingga budaya-budaya yang ada di masyarakat.

Di tengah-tengah modernisasi dunia saat ini berbagai kemudahan di rasakan oleh seluruh masyarakat dengan adanya kecangihan teknologi komunikasi.Seiring dengan perkembangan teknologi ini , berbagai peralatan telekomunikasi-pun semakin meningkat tajam dengan berbagai kelebihan dan kecanggihanya. 
Arus informasi-pun terasa sangat cepat melebihi berita-berita di berbagai siaran televisi, tentunya ini merupakan salah satu dampak positif karena dapat memberikan informasi secara cepat, meskipun terkadang informasinya kurang akurat. Di sisi lain kita harus mengakui hal ini merupakan  kecanggihan teknologi dewasa ini.

Saat ini sadar atau tidak kecanggihan teknologi membuat para pebisnis harus berfikir keras menjadikan tempat bisnisnya unggulan dari tempat-tempat bisnis lain. Persaingan ini bukan hanya terjadi pada bisnis-bisnis yang besar dan berkelas, bisnis kecil-pun di tuntut untuk mengikuti arus perkembangan teknologi. 
Salah satu contoh adalah warung kopi. Mungkin saja Dahulu sebelum teknologi secanggih saat ini, warung kopi hanya tempat untuk menikmati bercangkir-cangkir  kopi sambil berdiskusi santai dengan orang lain.

Namun saat ini warung kopi seakan-akan telah ber-evolusi menjadi sebuah tempat yang paling nyaman bagi para Pengunjung. Tak jarang pengunjug sering menjadikan warung kopi sebagai rumah keduanya untuk beristirahat.

Rumah kedua?
 Iya.
Mengapa ?
Apakah karena rasa kopi yang makin nikmat ?
Mungkin saja iya.

Namun, sebagian besar pemuda dan anak-anak jika di tanya mengapa mereka ke warung kopi pasti jawabnya karena warung kopi menyediakan Wireless Fidelity atau lebih di kenal dengan WIFI. Masyarakat pada umumnya mengenal WIFI sebagai sarana untuk memuaskan diri yang haus dengan Internet.

Cobalah anda bayangkan bagaimana warung kopi tanpa fasilitas WIFI ?
Apakah anda mau pergi ke warung kopi itu?

Mungkin anda sendiri akan menjawab jangan nongkrong ke warung kopi si A WIFI-nya kurang bagus.
Sangat sedikit para pemuda saat ini yang akan pergi ke warung kopi yang tidak memiliki Wireless Fidelity atau WIFI. Meskipun dalam keadaan terdesak para pemuda akan tetap mencari warung kopi yang memiliki Wireless Fidelity atau WIFI yang memiliki kecepatan internet di atas rata-rata. Lalu pertanyaanya adalah apakah warung kopi yang menyediakan fasilitas Wireless Fidelity atau WIFI ini akan banyak di kunjungi ? Jawabanya adalah tidak. karena pengunjung akan bertanya kembali bagaimana kecepatan internet Wireless Fidelity atau WIFI di warung kopi itu ?
Jika warung kopi si A kecepatan WIFI nya standar maka pengunjung akan mencari warung kopi lain yang kecepatanya melebih warung kopi si A begitulah seterusnya.
Kalau-pun hal demikian terjadi, Pada titik inilah penulis berpendapat kecanggihan teknologi dan kecepatan internet WIFI, telah mengalahkan nikmatnya rasa kopi. karena kopi hanya menjadi pelengkap nikmatnya manjaan frekuensi kecepatan internet wifi.

Tidak cukup sampai di situ, kecangihan teknologi Wireless Fidelity atau WIFI ini tentu memberikan dampak negatif bagi generasi penerus bangsa, karena generasinya akan lebih banyak merunduk melihat Gadget masing-masing dan tak perduli lagi orang di sekitar baik itu sahabat,pacar, teman dan lain-lain.
Penulis pernah mengalami hal ini. Ketika di ajak ke warung kopi dengan niat untuk berdiskusi tentang permasalahan kenegaraan.. Tiba-tiba saja teman-teman malah fokus dengan berbagai chating yang masuk, ada yang asyik Facebook, Youtube,instagram dan lain-lain, hingga secangkir kopi habis permasalahaan diskusi yang di bahas tidak menemukan solusi. Bagaimana permasalahanya bisa ada solusi, nokrong-nya tiga jam membahas masalahnya 15 menit, sisinya dua jam 45 menit di habiskan untuk ngobrol sama orang yang jauh.

Penulis-pun meyakini bahwa anda pernah mengalami hal serupa meskipun tidak sama persis seperti yang penulis alami. 
Teman tidak bisa kita sembunyikan lagi bahwa jumlah warung kopi yang makin banyak yang di dukung dengan frekuensi kecepatan wifi, telah berhasil memanjakan pengunjung dan menambah jumlah angka generasi merunduk tiap harinya.
Bertambahnya jumlah generasi merunduk ini tentu menghilangkan rasa kecintaan kita terhadap bangsa ini, sebab generasi bangsa hanya menjadi pecandu gadget. Ironisnya warung kopi dan penyediaan WIFI yang gratis setelah memesan secangkir kopi tidak membatasi usia, sehingga tak heran anak-anak usia 5-10 tahun bisa kita temukan di berbagai warung kopi dengan begitu bebasnya mengakses apapun yang mereka inginkan.
Hal ini tentu berdampak pada pemikiran anak karena kebiasaanya merunduk hingga tumbuh dewasa akan terbiasa merunduk, anak-anak tidak lagi perduli dengan lingkunganya, ironisnya lagi permainan yang wajar di mainkan anak-anak seakan menjadi hal yang memalukan di mainkan. Karena terlalu asyik nongkrong di warung kopi yang memiliki fasilitas WIFI dengan kecepatan internet yang memanjakan. Padahal di sisi lain anak-anak adalah generasi bangsa yang nanti-nya akan menjadi pemuda pemudi bangsa yang memperjuangkan kebenaran dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. Jangan biarkan mereka terlena dengan manjaan fasilitas WIFI di warung kopi kita.

Terakhir saya ingin menitip pesan kepada teman-teman pebisnis usaha warung kopi untuk memperhatikan batasan usia anak-anak yang datang ke warung kopi kita, agar tidak di manjakan dengan fasilitas WIFI. Sebab di tangan merekalah bangsa ini kedepan kita wariskan. Dan untuk para orang tua semoga saja kita lebih mengontrol anak-anak kita adik-adik kita dan keluarga kita agar tidak menjadi generasi yang lebih banyak menundukan kepalanya.
Terkhusus untuk pemerintah semoga saja kalian masih memikirkan nasib anak bangsa saat ini dan bisa meramal apa yang akan terjadi nanti nya jika membiarkan anak-anak dan pemuda bangsa menjadi generasi merunduk seperti saat ini. Di tangan kalian lah berbagai regulasi bisa di keluarkan untuk meminimalisir bertambahnya jumlah generasi merunduk.
Semoga coretan tangan ini bisa menyadarkan kita bahwa generasi bangsa kedepan ada di tangan anak-anak dan pemuda saat ini.

Wallahu A’lam...



Penulis ialah Alumni Universitas Bacharudin Yusup Habibie Gorontalo.

Share:
Lokasi: Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Indonesia

Popular Posts

Mengenai Saya

Popular Posts