![]() |
| Teliti atau asal mengajar (geogle). |
Tabloid Kasuari, Opini--- Pilihan yang paling mudah adalah mengajar? Mengapa? Karena paling mudah! Tinggal buka buku, baca, hapalkan, jelaskan (atau bahkan) diktekan, lalu suruh mahasiswa menghapal, uji hapalan mereka, dan terakhir kasih nilai atas daya ingat mereka.
Gampang, kan? Semuanya sudah disediakan para profesor, doktor, atau ahli apapun. Diramu oleh seorang penulis ke dalam buku dan anda tinggal menikmati semua pengetahuan orang lain....Nah lho!
Benar, kan? Semua itu pengetahuan orang lain, mungkin 10, 100, atau 1000 tahun yang lalu. Dikumpulkan ke dalam paragraf-paragraf, lalu disebar ke kampus-kampus. Sampai ke tangan mahasiswa mungkin dalam bentuk fotokopian atau catatan.
Jika semua itu pengetahuan orang yang kemudian diceritakan oleh dosen di dalam kelas, seakan-akan dia orang yang pertama kali mengetahuinya-padahal mungkin usia ilmu itu sudah sama tuanya dengan kebudayaan manusia sendiri-lalu apa "hebatnya" yang dilakukan di depan kelas tersebut?
Pernah nonton film Good Will Hunting, yang tokohnya, Will Hunting, tidak pernah sekolah tapi bisa sangat "terpelajar" hanya dengan data perpustakaan? "Mengapa kalian menghabiskan puluhan ribu dollar hanya untuk pengetahuan yang hanya senilai satu kartu langganan perpustakaan?", itu katanya kurang-lebih.
Sebenarnya ada tugas dosen yang sering dilupakan-dengan sengaja malah!-yaitu meneliti. Apa bedanya meneliti dengan mengajar?
Jika seorang dosen mengajar, ia hanya menggunakan buah pikiran orang lain. Kasarnya, ia tinggal menghapalkan buku dan masuk ke dalam kelas. Titik.
Tetapi tidak demikian dengan meneliti. Seorang peneliti pada titik awal tugasnya sama dengan seorang pelajar. Ia membaca dulu. Semua buah pikiran orang ia kumpulkan. Lalu setelah itu, semuanya ia gabungkan menjadi sebuah rangkaian besar, gambaran teori baru yang dengan bantuan data dan fakta menjadi sebuah ILMU!
Jadi jelas sekali bedanya di sini.
Mengajar: memberitahukan ilmu orang lain kepada mahasiswa
Meneliti: mengajarkan ilmu anda kepada mahasiswa
Lalu, mengapa dosen malas meneliti? (Mau bukti? Lihat saja dosen-dosen anda sekarang atau yang lalu. Seberapa sering mereka pergi ke ruang seminar dalam setahun? Bandingkan dengan berapa kali ia mengajar dalam seminggu!) Jawabannya adalah rupiah....Tidak ada peneliti yang bisa kaya, sekaya pengajar. Namun tidak ada pengajar yang setenar peneliti.
Anda tidak akan pernah bisa membuat profesor anda duduk di depan anda, mendengarkan omongan anda kecuali anda "memberinya" ilmu anda. Jika ilmu yang ada berikan itu dari buku, jangan harap ia akan pernah mau duduk di depan anda. Profesor...? Boro-boro mau mendengarkan anda. Dia pasti sudah duluan tahu daripada anda. Tapi jika ilmu itu adalah ilmu "milik" anda, ia pasti akan duduk patuh di depan anda.
Nah, sekarang, apakah anda mau meneliti? Pikir-pikirlah dulu. Anda akan jatuh miskin dalam ketenaran.
Admin ( Marchelino Kudiai)

