Rombongan LE Dan AHY yang dimuat dalam dinding Fb penulis.(foto, BL)
Oleh : Benyamin Lagowan
"ANALISIS SINGKAT KEDATANGAN AHY YANG BERWUJUD “AKADEMISI” PADAHAL “POLITISI”
1. PRAKATA
Politik di Indonesia semakin panas. Semua orang ramai membahas dan mengikuti berbagai dinamika politik di negeri ini. Apalagi memasuki awal 2018 ini. Banyak sekali daerah yang akan menggelar berbagai pesta demokrasi Pilkada. Punckanya tahun 2019 akan ada Pilpres dan Pileg. Maka sudah mulai tampak berbagai media, perorangan politikus mulai melakukan berbagai cara guna menipu rakyat untuk mendapatkan simpati menuju hajatan demokrasi 5 tahunan di atas.
2. SIAPA AHY ?
Agus Harimurti Yudhoyono adalah salah satu politisi muda Indonesia yang kemarin gagal dalam pilgub DKI Jakarta. Ia adalah putra sulung SBY, Presiden 2 periode RI ke-6. AHY akhirnya pensiun dini dari kemiliteran untuk melanggengkan dinasti kekuasaan oligardi SBY sebelum para folowers dan SBY-isme redup dibuat Jokowi. AHY dipakai oleh bapaknya SBY untuk maju sebagai Capres tahun 2019.
Pilkada DKI Jakarta yang diikuti AHY adalah batu loncatan walaupun tidak berhasil. AHY sudah dinominasikan oleh beberapa lembaga survei di Indonesia sebagai salah satu capres muda yang potensial. Pamor dan popularitasnya bisa mendekati beberapa politisi senior Indonesia seperti Jokowi dan Prabowo (Tempo.Co). AHY kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institut (TYI): Sebuah institut milik keluarga SBY yang baru didirikan pada pertengahan 2017 lalu di gedung bekas timses AHY berpolitik, namun gagal memenangkan AHY di Pilgub DKI 2017 silam.
3. ANALISA KEDATANGAN AHY
Kedatangan AHY dapat kita analisa dari 2 sudut pandang: pertama sebagai politisi dan kedua sebagai akademisi (?).
a. Sebegai Politisi
Jika AHY didatangkan atau datang ke Uncen sebagai politisi adalah lebih tepat. Sepak terjang AHY dalam dunia politik walaupun baru sebagai cagub yang gagal, meyakinkan kita bahwa kepentingan politik mempunyai peran yang lebib besar atas kedatanganya. Kepentingan politik ini sangat “mutualis” antara yang mendatangkan, yang hadir dan yang jadi panitia. Bahkan penyedia tempat kegiatan yang dirubah wujudnya dengan istilah kuliah umum pun sama; memiliki hitung-hitungan politik yang handal sehingga mampu memberiakan ruang dalam kampus Uncen.
Akhirnya politik praktis masuk kampus lagi. Persoalan makin tidak akan selesai, sebab sudah mulai ada deal-deal politik masa depan dengan halusina-halusinasi ketenaran, kekuasaan, ketokohan, kewibawaan dalam sistem yang mulai terbangun. Semua halusinasi itu menciptakan deal-deal politik dimasa mendatang. Dampaknya rakyat akan terus jadi korban. Politik masuk kampus Uncen. Demokrat menjadi partai Uncen. Uncen dan Pemprov akan menjadi mesin pemenangan AHY untuk tahun 2024.
b. Sebegai Akademisi
AHY sebagai Akademisi? Tidak. Apakah AHY punya jam terbang tinggi sebagai pengajar tidak? Apakah dia Dosen? Oh tidak juga. Lalu apa yang patut dibanggakan dari AHY sehingga masuk kampus Uncen ? Apakah TYI milik AHY adalah institut unggulan di Indonesia yang patut di contoh oleh Uncen? Tidak. Kenapa? Karena TYI baru dibangun pada 10 Agustus 2017 lalu. Apakah lembaga Uncen yang lebih tua, lebih terkenal ini pantas menerima kuliah umum dari politisi seperti AHY dengan institutnya yang baru seumur jagung? Apakah ini tidak lebih dari sekedar cari popularitas dan legitimasi meloloskan AHY sebagai capres 2019? Apakah Rektor Uncen dan Ketua Partai Demokrat Papua sadar ketika Lembaga Uncen sebagai lembaga pendidikan di tanah Papua digiring ke dalam politik pragmatis maka, kaidah-kaidah ilmiah yang menjadi semboyan dan landasan kerja lembaga PT bisa lenyap?
Setelah AHY masuk Kampus apa dampak yang dikhawatirkan bagi Uncen? Ya tentu. Akan ada antipati. Bagi para akademisi murni yang profesional. Tentu pula akan terbentuk resistensi di kalangan “Prabowo lover” dan “Jokowi lover” dalam sistem pendidikan Uncen. Maka keharmonisan sebagai sesama tenaga civitas akademika bisa kendor. Akhirnya politik masuk kampus dan Tridarma PT semakin kehilangan roh. Rakyat menderita PT jadi SKPD alias market politik pragmatis.
4. KESIMPULAN
Jika menjadi orang Papua, rektor Uncen dan Para Penguasa di Papua harus menghentikan politik pragmatis masuk menggerogoti Kampus Uncen; menghentikan tradisi politisasi yang merusak PTN/PTS di Indonesia. Menghentikan politisasi dan membiarkan Lembaga Uncen menjadi salah satu lembaga “steril” yang dapat memproduksi solusi bagi semua komplesitas masalah di Papua. Virus politik perlu dijauhkan dari Uncen. Jika tidak ada lembaga yang independen yang solutif, maka akan kemana, kita mencari solusi atas seluruh masalah rakyat Papua? Apakah harus ke Pasifik dan ke bulan dengan bantuan AS ? Memberikan akses bagi politisi masuk kampus akan semakin buat rakyat tertindas.
Uncen itu adalah akar dari masalah rakyat Papua, maka jadikanlah Kampus Uncen sebagai sebuah tempat pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Papua yang menderita dengan menjadi solusi akar masalah tadi. Bukan tempat politisasi dan investasi kepentingan politik elit, penguasa parpol semata.
Jadi, kesimpulannya: kedatangan AHY ke Uncen hanya mencari popularitas dan legitimasi dari lembaga pendidikan Uncen. (Marchel kudiai)
Penulis ialah mahaiswa yang berkuliah Di Fakultas Kedokteran, University Of Cenderawasih.
Sumber: https://blagowan.wordpress.com/2018/01/23/ahy-ke-uncen-untuk-apa/?preview=true
Sumber: https://blagowan.wordpress.com/2018/01/23/ahy-ke-uncen-untuk-apa/?preview=true


0 komentar:
Posting Komentar