Selasa, 07 November 2017

Rekam jejak: Saya Perna Bermimpi dan Berjuang

Faisal panggi. 


Oleh: Faishal Panggi

"Terkadang manusia berbagi ceritanya bukan untuk mendapatkan perhatian orang lain, tapi lebih kepada memotivasi orang-orang yang bernasib sama untuk tidak berhenti berjuang dan berputus asa di tengah perjalanan hidup yang penuh dengan tanda tanya ini".(Faisal panggi)

Tabloid Kasuari, Artikel--- 08 desember 1994  di tanggal dan tahun itulah saya lahir sebagai putra pertama dari pasangan Danial dan Yurida, dengan di beri nama Faisal Panggi, semenjak di lahirkan hingga tumbuh sebagai anak remaja, saya selalu tinggal bersama keluarga kecil di kelurahan siduan, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato provinsi Gorontalo. Hidup di tengah-tengah keluarga yang memiliki ekonomi menengah kebawah menuntut saya agar bekerja keras dan berjuang agar bisa membantu ayah dan ibu menyekolahkan saya.

Sebagai putra pertama tentunya orang tua menumpukan banyak harapan pada saya. Ayah dan ibunda tercinta memimpikan kelak saya akan mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dari mereka berdua dan menjadi insprasi bagi anak-anak yang hidup dalam keluarga ekonomi kelas menengah kebawah, serta dapat membawa manfaat bagi orang lain.

Pertama kali memasuki sekolah formal, ibu mendaftarkan saya di sekolah dasar yang terletak tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal tepatnya di SD Negeri Sipayo sekolah ini adalah harapan awal bagi orang tua untuk menjadikan saya orang berpendidikan agar bisa membantu mewujudkan impian mereka. 

Prestasi saya mulai kelihatan semenjak saya berhasil menjadi juara 1 lomba ceramah antar siswa se kecamatan paguat. Sebuah prestasi yang ingin kutunjukan pada kedua orang tua bahwa saya mampu dan bisa menjadi orang nomer satu meskipun hidup di tengah keluarga yang terbilang ekonomi lemah. Singkat cerita, pada tahun 2006 saya di nyatakan lulus dari sekolah dasar.

kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Paguat, salah satu sekolah menegah pertama unggulan di kecamatan Paguat. Disekolah inilah saya mulai belajar dan menimbah ilmu lebih giat dengan target agar bisa meraih juara kelas. 
Hari demi hari saya lalui sama seperti siswa yang lain hingga tibalah saat pengumuman kejuaraan dan kenaikan kelas.

  Sempat mengalami trauma karena tidak berhasil meraih juara kelas. Akan tetapi hal ini itu tidak mengurangi semangat  untuk belajar. karena saya masih bisa bersyukur dan bernafas lega  bisa naik ke kelas 2 dengan nilai yang cukup memuaskan di bandingkan dengan teman-teman yang tertinggal. 

Pada awal masuk sekolah semester genap di tahun ke-2, dengan suasana kelas yang berbeda saya teringat kata ibu yang berpesan “Tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita terus berjuang dan bekerja keras” sebuah kalimat yang merubah cara pandang berfikir saya waktu itu dan menambah semangat belajar saya. 
Alhamdulillah di semester ganjil dan genap saya mendapat juara 2 kelas dengan nilai yang sangat memuaskan, berbagai pujian dan ucapan selamat saya dapatkan akan tetapi hal itu tidak membuat saya bangga hati karena saya harus berjuang keras lagi pada semester berikunya, sebab di kelas 3 nanti setiap siswa yang berhasil meraih juara 1 hingga 3 di satukan dalam satu kelas khusus. 

Alhamdulillah semenjak mendapat juara 2 kelas, saya berhasil mempertahankan nilai-nilai itu dengan baik hingga Pada tahun 2009 saya dinyatakan lulus dari sekolah menegah pertama dengan nilai yang sangat memuaskan.

Perjalan pendidikan yang masih panjang sempat membuat saya putus asa karena mengingat ekonomi orang tua yang sangat lemah, namun dengan tekad dan kepercayaan yang kuat saya mendaftarkan diri di sekolah yang agak jauh dari tempat tinggal yaitu sekolah SMK Negeri 1 Dengilo. 
Sebuah sekolah yang menurut saya bisa membuat saya memiliki pekerjaan setelah mendapat izajah kelulusan dari sekolah itu. Resiko yang sangat besar membebani fikiran saya dan keluarga ,karena setiao harinya keluarga harus menyiapkan uang sebesar delapan ribu rupiah hanya untuk menyewa transportasi menuju sekolah di tambah dengan biaya hidup makan sehari-hari yang sangat membebani fikiran orang tua.

Hari demi hari saya lalui dengan penuh rasa kebahagiaan, di awal semester saya mulai merasakan begitu berat perjuangan orang tua menyekolahkan anaknya karena setiap hari harus menyiapkan uang transportasi dan uang jajan agar saya bisa tetap sekolah.
sempat terfikir dalam benak untuk berhenti bersekolah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinan, akan tetapi niat itu saya urungkan dengan prinsip saya mampu merubah ekonomi keluarga melalui pendidikan yang baik, hingga akhirnya saya pun memutuskan untuk kerja sambil sekolah. 

Perjuangan panjang meraih mutiara impian mengajarkan saya arti sebuah kesabaran. Dengan tekad dan niat untuk meringankan beban orang tua, saya memutuskan untuk bekerja di sebuah toko onderdil motor yang terletak tidak jauh dari rumah saya.
Keputusan untuk bekerja sambil bersekolah saya ambil karena saya ingin tetap bersekolah dan menamatkan pendidikan meskipun hanya sampai Tingkat SMK.

Di awal pekerjaan saya harus berjuang melawan rasa malas, dan harus bangun pagi jam 05.00 untuk segera bergegas mengatur Botol Bensin dan merapikan setiap perkakas Onderdil Motor di dalam Toko sang majikan, hingga jam 06.00 barulah saya Mandi untuk berpacu pergi ke sekolah, tidak jarang aktifitas ini membuat saya terlambat datang di sekolah.
 sepulang sekolah-pun saya harus lanjut bekerja. setiap hari aktifitas ini saya lakukan dengan perasaan sabar dan rasa percaya diri yang kuat. Meskipun terkadang hati dan perasaan yang ingin merasakan nikmatnya masa remaja, bermain bersama teman-teman seakan hilang dan tak ada lagi.

Di sekolah saya bukan hanya aktif dalam kegiatan yang menambah prestasi tapi juga aktif dalam ber-organisasi. Alhamdulillah semenjak masuk sekolah itu, saya di percayakan menjadi Ketua Pramuka Bantara, sekaligus menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Siswa dan Ketua Siswa pecinta alam.
Pertengahan tahun 2013 setelah hampir 3 tahun lamanya saya bekerja sambil bersekolah akhirnya saya lulus dari sekolah dengan nilai yang memuaskan. 
Suka duka saya lalui dengan berbagai rintangan tetapi berkat doa dari ibu dan ayah saya berhasil meraih Izajah Sekolah Menengah Kejuruan.

Ratusan bahkan Ribuan pertanyaan di tanyakan oleh seribu wajah yang berbeda tentang  kemana saya akan melanjutkan pendidikan setelah tamat SMK. Impian dan harapan untuk menggapai cita-cita seakan hilang dengan di raihnya izajah sekolah menegah kejuruan karena saya menyadari orang tua saya tak mampu membiayai saya untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi Negeri maupun swasta.
Hari demi hari berlalu tiba begitu saja, hingga tiba saatnya waktu pendaftaran perguruan tinggi di buka, rasa cemas dan gelisah mulai muncul melihat teman-teman yang di dampingi langsung oleh orang tuanya datang mendaftarkan diri keperguruan tinggi, aku hanya bisa terseyum menyembunyikan rasa cemburu yang sangat menyayat hati.

Detakan waktu terus berputar dalam diam saya berfikir bagaimana mungkin saya bisa melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi sementara kedua orang tua saya tidak memiliki apa-apa untuk di jual dan membiayai perkuliahan saya nanti. 
Hingga tiba pada satu malam saya teringat sosialisasi perkuliahan yang waktu itu saya ikuti di Kecamatan Marisa yang  di sampaikan  oleh salah satu Dosen Hukum Universitas Negeri Gorontalo sekaligus menjabat sebagai wakil Rektor 3 Bpk.DR. Fence M. Wantu S.H. M.H.  beliau mengatakan bahwa di UNG terdapat banyak beasiswa dan beasiswa terbesar adalah BIDIK MISI yang di biayai hingga tingkat akhir perkuliahan.

 Sungguh saya tak menyangka begitu cepat tuhan menjawab kegelisahan dan kekhawatiran saya tentang biaya kuliah. 
Dengan bantuan salah seorang Guru sekolah Serangkaian proses pendaftaran masuk perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN) jalur undang saya ikuti mulai dari mengisi formulir hingga mendaptarkan diri sebagai peserta Bidik Misi secara online  saya lalui, dengan harapan saya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. 
Dengan penuh rasa semangat dan gembira saya ceritakan beasiswa Bidik Misi ini kepada ibu saya dengan harapan ibu bisa tersenyum gembira, namun raut wajah sedih kembali nampak dari wajah ibu.
 saya mengerti yang ibu pikirkan pasti masalah biaya perkuliahan nanti, tapi usaha untuk meyakinkan terus saya lakukan hingga ibu setuju saya melalanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi meskipun belum di nyatakan lulus dalam seleksi nasional. 

Hingga tiba akhirnya,,,,hari yang di nanti pun tiba, pengumuman SNMPTN 2013 akan berlangsung secara online pada pukul 18.00 WIB. Rasa kecewa menyelimuti fikiran mengapa tidak karena perjuanganku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi se akan tak punya harapan karena saya tidak di nyatakan Lulus lewat jalur SMNPTN. Hanya kesabaran dan doa yang membuat saya kuat saat itu dengan penuh rasa semangat saya percaya akan tetap bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena masih ada satu tahapan seleksi yaitu seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Tahapan proses pendaftaran kembali saya lalui dengan perasaan sabar dan penuh rasa percaya diri bahwa saya memiliki peluang untuk masuk perguruan tinggi negeri.
seiring berjalanya waktu proses Seleksi Bersama saya lalui selama kurang lebih 4 hari berturut-turut di Universitas Negeri Gorontalo. Hari demi hari saya lalui dengan harapan agar bisa  mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi negeri.
hari yang di nantipun tiba  Dengan usaha dan kesabaran Allah mengabulkan doa saya dan doa kedua orang tua.

Alhamdulillah,,,,,, saya di nyatakan lulus perguruan tinggi negeri dan berhasil mendapatkan beasiswa bidik misi, sebuah hari yang penuh dengan keceriaan, rasa bahagia yang tak mampu di ucapkan dan penuh rasa syukur, saya di terima di Universitas Negeri Gorontalo di jurusan Ilmu Hukum fakultas Ilmu sosial.
Sungguh anugrah terindah yang tak pernah saya duga sebelumnya sebuah kejutan dan hadiah yang allah berikan begitu indah hingga membuat kami sekeluarga kala itu meneteskan air mata bahagia.
--Hasil yang maksimal hanya akan di peroleh ketika kesabaran dan doa, di barengi dengan usaha dan perjuangan yang tak pantang menyerah. 

Terkadang kita berfikir bahwa kemiskinan tidak akan  membuat kita bisa melanjutkan pendidikan yang layak tapi ketahuilah sesunguhnya  kemiskinan hanyalah ujian yang allah berikan untuk menguji seberapa besar kesabaran yang kita miliki dan sejauh mana perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, sebab rencana Allah lebih maksimal dari pada rencana manusia. (Marchelino kudiai/TK Uncen)



Kisah Seorang Aktivis Mahasiswa Alumni Di Universitas Negeri Gorontalo, Mr. Faisal Panggi.
Share:
Lokasi: Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Indonesia

Popular Posts

Mengenai Saya

Popular Posts